Desa sarijaya Kec.Majalaya Kab.Karawang - Jawa barat

Tampilkan postingan dengan label SI PITUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SI PITUNG. Tampilkan semua postingan

PITUAN PITULUNG

Makam Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma

Namun sejatinya Pitung itu adalah sebuah organisasi perlawanan rakyat Betawi, terhadap pemerintahan kolonial Belanda. PITUNG merupakan singkatan dari PITUAN PITULUNG, yang bermakna Tujuh Orang Penolong, yang dipimpin oleh Ratu Bagus Mohammad Ali bin Raden Samirin.

Nama ke-7 Pendekar itu adalah :

  1. Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma (GUGUR TERTEMBAK)
  2. Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma (GUGUR TERTEMBAK)
  3. Ratu Bagus Rais Sonhaji Nitikusuma
  4. Hasan
  5. Saman (nama Panggilan)
  6. Jebul (nama samaran)
  7. Abdullah (Dulo)
Sumber : Pitung dari Kemanggisan/Kemandoran


Makam Ratu Bagus Roji’ih Nitikusuma

Share:

ANGGOTA PITUNG


Pada tahun 1893 muncul Anggota Pitung yang tidak kalah menakutkan bagi Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu Kyai Haji Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma.

Pada tahun 1914, Ahmad Syar’i bersama dua rekan seperjuangan, membentuk organisasi perlawanan yang bernama “KI DALANG”. Pada masa itu, dikenal 3 (tiga) orang pemimpin yaitu :


  • KI SAMA’UN
    Kisama'un yang berpusat di Teluk Naga Kampung Melayu Tangerang (kini masuk wilayah Provinsi Banten)
  • KI SYAR’IE (KH RATU BAGUS AHMAD SYAR'IE MERTAKUSUMA),
    Kh Ahmad Syar;ie Martakusuma / Ki Syar;ie berpusat di Bambu Larangan Cengkareng Jakarta Barat
  • KI ABDUL KARIM DAIM,
    berpusat di Kampung Duri Gang Jamblang.


Perlawanan “KI DALANG” ini berakhir pada tahun 1924, yang ditandai dengan terbunuhnya Ki Sama’un, serta tertangkapnya Ki Syar’ie, Ki Abdul Karim Da’im bersama pemimpin lainnya.

Tidak beberapa lama di tahan, Ki Syar’ie berhasil kabur, namun beliau tertangkap di Kota Bandung, dan di jatuhi hukuman gantung oleh Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu.

Tetapi belum sempat di hukum, Ki Sya’ie untuk kedua kalinya berhasil melarikan diri.
Selama bertahun-tahun pihak Belanda mencari keberadaan Ki Syar’ie ini, tetapi tidak juga mereka temukan.

Dalam pelariannya Ki Syar’ie sempat ke Medan, kemudian di tahun 1926 bermukim di Kota Palembang.

Sumber : Biografi Kyai Haji Ratu Bagus Ahmad Syar’i Mertakusuma
Share: